Melatih Kejujuran Anak

Kamis, 2 April 2015 16:43:50 - Posting by diyah_ayu - 681 views

KoranPendidikan.com - Berbicara masalah kejujuran, sebaiknya kita ulas terlebih dahulu perkembangan pendidikan karakter yang ideal diberikan pada anak. Kita pasti pernah mendengar istilah Golden Age pada pertumbuhan anak? Golden Age atau masa-masa emas anak merupakan masa-masa dimana pertumbuhan fisik, mental, maupun spiritual anak mulai terbentuk. Masa-masa ini akan dialami oleh setiap anak ketika usia mereka 0-6 tahun. Pada usia ini anak akan dengan mudah dan cepat menyerap berbagai macam informasi tanpa dapat menyaring mana yang baik dan buruk, menentukan apakah mereka memiliki semangat yang tinggi dalam belajar atau pekerjaan, ataukah mereka memiliki kecakapan dalam menghadapi tantangan dalam kehidupannya di masa yang akan datang.

Sebagai orang tua alangkah baiknya kita memanfaatkan masa-masa emas anak-anak kita untuk memberikan pola pendidikan yang sarat dengan nilai positif yang akan membentuk kepribadian mereka yang kelak mereka gunakan dalam menjalani kehidupan mereka yang sebenarnya.

Mengutip apa yang diungkapkan Dorothy Law Nollte:

Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri

Jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan kasih dalam kehidupannya

Pada dasarnya anak belajar dari kehidupan di sekitar mereka. Terutama belajar dari kedua orang tua mereka yang setiap hari mereka temui di rumah. Jadilah contoh yang baik untuk mereka. Seperti apa yang diungkapkan oleh Dorothy Law Nollte di atas, anak hanya mengulangi perilaku yang dilakukan oleh orang-orang disekitarnya terutama oleh orang tua. Kita sebagai orang tua kadang tidak sadar bahwa apa yang kita lakukan justru akan membuat anak jauh dari karakter positif. Semisal ketika kita melihat anak kita belajar naik ke kursi, kita selalu meneriakkan kata “awas”. Kita tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut akan terpatri dalam memori anak bahwa hal tersebut sangat menakutkan dan akan berdampak besar ketika mereka dewasa, mereka tidak akan berani mengambil resiko dalam kehidupannya dan memilih bersifat apatis terhadap segala sesuatu. Padahal kelihatannya sepele. Tetapi berdampak luar biasa pada kehidupan anak di masa yang akan datang. Andai saja kita mengucapkan kata “hati-hati” anak akan merasa diberi pilihan bahwa dia harus waspada terhadap segala kemungkinan, terjatuh atau terpeleset. Sehingga ketika dewasa kelak, anak akan lebih bijak menyikapi pilihan-pilihan dalam kehidupannya.

Lantas, bagaimana cara membangun karakter jujur pada anak?

Berbuat jujur mutlak diperlukan oleh setiap orang dalam hubungannya dengan orang lain, masyarakat, dan Tuhan. Jujur tidak hanya dalam hal perkataan tetapi juga jujur dalam hal perbuatan. Karakter jujur pada anak akan terbentuk dengan sendirinya, apabila orang-orang di sekitar mereka tumbuh dan berkembang juga memiliki karakter jujur. Orang tua sebagai figur contoh terdekat mereka di rumah, guru sebagai figur contoh terdekat mereka di sekolah, dan tetangga atau masyarakat di sekitar mereka tinggal merupakan contoh figur terdekat mereka di lingkungan tempat tinggal mereka.

Orang tua harus menanamkan dan bertanggung jawab penuh terdapat pembentukan karakter jujur di rumah. Misalnya, ketika kita sebagai orang tua mendapatkan titipan uang “angpaw” lebaran anak kita yang masih kecil, kita sebaiknya mengatakan dengan jujur berapa jumlah uang yang anak kita dapatkan, sekali pun anak kita belum mengerti apa-apa. Karena pada dasarnya anak merekam apa yang diucapkan dan dilakukan orang tua. Ajaklah mereka berkomunikasi tentang pentingnya arti sebuah kejujuran dan implementasikan dalam kehidupan sehari-hari di rumah.

Guru di sekolah juga memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang sama dalam menanamkan karakter jujur pada anak. Latihlah mereka berperilaku jujur dalam hal sekecil apapun dengan cara yang sederhana, misalnya membentuk kantin kejujuran di mana tidak ada yang mengawasi tingkah laku mereka dan menekankan hanya Tuhan yang menjadi pengawas segala aktivitas jual beli yang mereka lakukan. Menumbuhkan rasa percaya diri yang kuat pada diri masing-masing anak sehingga tidak ada lagi yang menyontek saat ulangan sekolah.

Pilihlah lingkungan tempat tinggal yang “aman” untuk membentuk karakter positif bagi anak. Jadikan masyarakat di sekitar tempat tinggal kita contoh yang baik dalam membentuk karakter positif bagi anak. Lingkungan baik dan sehat akan membuat karakter positif anak yang terbina di keluarga dan sekolah akan semakin kuat.

Komaria Rahayu, S.Pd
Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

Tags #