Tahfizh Qur'an Tematik Inovasi Pengajaran Al-Qur'an untuk Anak

Sabtu, 18 April 2015 19:42:48 - Posting by redaksi - 674 views

KoranPendidikan.com - SEAKAN dapat meramal apa yang akan terjadi di akhir zaman, Nabi Muhammad pernah bersabda: “ ...Akan datang suatu masa, ketika tak ada yang tersisa dari al-Qur’an melainkan tulisannya saja...” .

Pesan ini seakan menjadi penggugah dan pengingat agar kita mengkhawatirkan keadaan generasi dan anak keturunan kita di masa mendatang. Hal ini sejalan dengan pesan al-Qur’an yang secara tegas memerintahkan kepada kita untuk waspada dan prihatin jika meninggalkan anak cucu dalam keadaan lemah (an-Nisa’: 9 ).

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْتَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللهَ وَلْيَقُولُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا.

…Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.

Lemah di sini meliputi banyak aspek: fisik, psikis, ekonomi, intelektual, terlebih adalah lemah iman dan pengetahuan agama, yang keduanya bersumber pada al-Qur’an. Sebagai Kitab Suci, al-Qur’an adalah kitab mulia yang menjadi  pedoman dan penuntun hidup, yang mengatur segala aspek kehidupan. Al-Qur’an bukan hanya dibaca secara tekstual sesuai dengan kaidah baca yang benar (tajwid), Namun perlu dipahami pesan-pesan yang terkandung di dalamnya agar dapat menjadi pedoman untuk diamalkan.

Dalam kehidupan sehari-hari masih banyak kita jumpai di sekeliling kita masyarakat yang minim pemahaman akan al-Qur’an. Jangankan sampai pada taraf pemahaman, yang itu diperlukan kompleksitas pendekatan dan keilmuan, untuk membacanya saja mayoritas masyarakat yang mengaku Muslim, masih jauh dari sempurna. Agar ini tidak terjadi pada anak-cucu kita, maka kita perlu berusaha keras mempersiapkan mereka menjadi generasi Qur’ani.

Anak adalah anugerah dan amanah Allah yang terlahir dalam keadaan suci (fitrah). Kata fitrah terambil dari bahasa Arab, fa-tha-ra, sedikitnya memiliki dua makna; berarti bersih, suci dan “menciptakan sesuatu tanpa ada contohnya”. Sesuatu yang suci dari kata fithrah dan Fathara ini bisa diibaratkan seperti kertas kosong yang belum tersentuh coretan apapun. Menciptakan sesuatu tanpa ada contoh ini, tentu menjadikan terbuka peluang akan digambar dan dibentuk seperti apa. Menjadi tanggungjawab orang tua (secara biologis maupun sosiologis) untuk membentuk pribadi dan memenuhi segala kebutuhan, baik yang berkaitan dengan kebutuhan fisik-materi maupun psikis-mental dan intelektual. Akan terbentuk seperti apa masa depan anak-anak, sangat bergantung pada orang dewasa dan orang tua yang mengasuhnya serta lingkungan di mana mereka dibesarkan. Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa anak bisa berfungsi sebagai ziinah (perhiasan), fitnah (cobaan), ‘aduwwun (musuh) atau sebagai penyejuk mata (qurrata a’yun). Semua itu bergantung pada peran orang tua.[1]

Seorang ahli psikologi kenamaan, Dorothy Law Nolte dalam teorinya “Children Learn What They Live” menyatakan bahwa kepribadian anak sangat ditentukan oleh pola asuh yang dia amati dan alami. Jika ia dibesarkan dengan celaan dan cacian, maka anak akan pandai memaki. Sebaliknya, jika mereka dibesarkan dengan pujian, maka sesungguhnya ia telah belajar menghargai. Lebih tepatnya, teori ini mengajarkan akan pentingnya sikap, hati dan keteladanan dalam pendidikan anak, ketimbang bentuk ucapan dan perintah.

Dalam Islam, teladan yang baik dalam pendidikan anak diuraikan secara gamblang melalui kisah Lukman al-Hakim, orang tua yang sangat bijaksana dan kebijaksanaanya ini tercermin dalam nasehat-nasehat yang dia sampaikan pada anaknya. Karena kebijaksanaan itulah, meskipun Lukman al-Hakim bukanlah seorang Nabi, namanya diabadikan dalam al-Qur’an.

Sudah menjadi permakluman bersama bahwa nilai-nilai ideal yang tercantum dalam al-Qur’an ini, tidaklah dapat dipahami tanpa mempelajarinya. Dimulai dari mempelajari cara membaca yang baik dan benar (tartil), menghayati makna dan isi kandungan pesannya, yang pada gilirannya diharapkan akan dapat terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mengajarkan al-Qur’an pada anak sejak dini, adalah sesuatu yang sangat berarti, terlebih di saat masa-masa emas (golden age), di mana menjadi usia yang sangat efektif untuk memasukkan dan mentransfer pengetahuan sebanyak mungkin. Menurut teori neuroscience (ilmu tentang otak), sel-sel otak itu ibarat karet yang sangat elastis. Sebanyak apapun informasi yang disampaikan pada anak, maka sebanyak itu pula otak dapat menampungnya. Sebaliknya, jika pada masa emas ini otak anak tidak dioptimalkan dengan pengetahuan dan informasi yang luas, maka sebesar itu pula daya tampung otak yang dimiliki. Karena itu, hendaklah menjadi perhatian bagi orang tua maupun pendidik agar tidak terlewatkan masa-masa emas dalam perkembangan anak.

Di antara sekian banyak metode pengajaran al-Quran, di samping bacaan dan pemahaman, adalah juga melalui metode menghafal (tahfizh). Mengajarkan tahfizh al-Qur’an pada anak, bukan saja mengenalkan mereka bacaan al-Qur’an sejak usia belia, namun juga turut serta menjaga otentisitas al-Qur’an. Terlebih, di saat anak pada usia emas tersebut, menghafal adalah salah satu metode pembelajaran al-Qur’an yang akan sangat efektif, karena ibarat kaset, belum banyak rekaman yang masuk dalam ingatan anak. Karenanya, beberapa sekolah berlomba-lomba ambil kesempatan emas ini dengan menerapkan pembelajaran tahfizh sebagai program unggulan sekolah. Dalam penerapannya, metode ini dipraktekkan, baik melalui kurikulum pembelajaran, maupun di luar kurikulum. Seperti kegiatan ekstrakurikuler maupun pelajaran tambahan.

Pada umumnya, metode tahfizh yang selama ini diterapkan di beberapa lembaga pendidikan seperti sekolah maupun pesantren al-Qur’an adalah dengan sistem at-tartiib al-juz’ii (urutan juz), yang biasanya dimulai dari surat-surat pendek pada juz’ 30, dan sebagian menerapkan dari juz’ permulaan surat al-Baqarah. Untuk usia anak, memang kebanyakan dimulai dari urutan belakang karena dianggap mudah dan sesuai dengan tingkat usia anak. Meskipun harus diakui bahwa penerapan metode ini, tak jarang, hanya sebatas menghafal, tanpa anak mengetahui apa kandungannya.

Dalam perkembangannya, metode ini memang bukanlah tidak baik. Namun, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang menginginkan sesuatu secara praktis dan tepat guna, tepat akan pendalaman makna, pesan-pesan dan nilai-niai ideal dalam memahami al-Quran, kiranya perlu dirumuskan metode yang baru, melalui metode Tahfizh Qur’an Tematik. Metode Tematik ini dimaksudkan sebagai antitesis atas metode tartiib juz’ii tesebut.

Tahfizh Qur’an Tematik adalah salah satu teknik menghafal al-Qur’an dengan terlebih dahulu mengumpulkan ayat-ayat yang terserak dalam banyak surat dan juz untuk dirumuskan dalam satu tema khusus. Misalnya, ayat-ayat yang berkaitan dengan kisah para nabi, orang sholeh pada masa lalu, ibrah dari kisah hewan, kejadian alam, sains dan teknologi, hingga berhubungan dengan tata krama dan pergaulan masyarakat dan sosial.

Dalam penerapannya, metode ini menggunakan pendekatan multiple intelligences dan menyesuaikan dengan gaya belajar anak; auditori, visual dan kinestetik. Pembelajaran akan diawali dengan menonton VCD tentang kisah, menelaah buku dengan ilustrasi gambar, permainan tebak tokoh, menyusun puzzle potongan ayat baru dilanjutkan dengan menghafal ayat per ayat. Dalam proses talqin (menuntun tambahan hafalan), pendampingan orang dewasa diperlukan. Selama penyampaian materi pokok ini, anak seakan diajak menyelami kisah sembari berdialog. mengenalkan makna tiap kata dan kandungannya serta menanamkan pesan-pesan moral sebagai nilai yang terkandung dalam ayat yang dihafal.

Pembelajaran ini pun di-setting semenarik mungkin agar anak tidak merasa jenuh dan terpaksa menghafal. Menghafal menjadi aktivitas yang menyenangkan, karena diawali dengan visualisasi kisah kandungan ayat melalui VCD untuk memantik pemahaman anak pada alur cerita, memunculkan rasa penasaran dan membangkitkan minat anak untuk menghafal. Anak pun seakan dibuat tak sabar  dan muncul rasa penasaran (curiousity) untuk mengetahui narasi al-Qur’an sebagai lanjutan isi cerita dari VCD yang mereka tonton.

Di antara kelebihan metode ini diharapkan akan terekam kuat pada long term memory anak, karena lebih applicable dengan keseharian anak. Di samping itu, metode ini menggunakan pendekatan pembelajaran yang menyenangkan (happy learning), sehingga orangtua bisa berdialog dengan anak sambil menyisipkan pesan-pesan moral dan isi kandungan ayat yang dihafal. Dalam dunia psikologi pembelajaran telah dibuktikan bahwa anak yang belajar dalam kondisi happy dan menarik akan lebih cepat diterima ketimbang belajar tanpa disertai minat, terlebih jika dengan keterpaksaan.

*** Wallahu A’lam***

Oleh: Lailatul Fithriyah Azzakiyah
Guru SD Aisyiyah Malang, Alumni Magister Pendidikan Islam UMM

Tags #alquran #anak #inovasi #pengajaran #quran #tahfizh #tematik #untuk